I'm feel so blue
I've been so lonely these days. I feel like something's missing, It feels like there's an emptiness that hot vanilla milk won't fill, not warm tea. Maybe it's the thing called "feeling blue".
it's my deadline, move move !!
Like ride a roller coaster, after I was under, now I want to up the streets, over and shout out loud. Running for a destiny, and do what being my dreams and my promises.
sad man, yes I'am
actually were in the lowest point, I felt confused and didn't know what to do. There's something missing, something seems lifted by force in my life. I don't know what day tomorrow, what I could be with her again. I can only hope that one day the time came, and I promise willn't be a waste anymore. Yes, now I can only waiting for her.
Boy with the stars in his eyes
Memang saya memiliki kebiasaan untuk melihat acara reality show betema sosial di televisi kalau kebetulan tidak ada kuliah. Biasanya rutinitas pulang kerja pukul 5 sore, kemudian di lanjut perkuliahan (yang kadang membuat saya pulang ke rumau cukup larut) cukup melelahkan badan dan pikiran saya. Tetapi kebetulan kemarin ada libur (bertepatan dengan tanggal merah), jadi saya dapat sedikit refreshing sembari kenikmati acara televisi kesukaan. Menayangkan tentang kehidupan seorang janda dengan anak laki-laki semata wayangnya, mereka bertahan dan menyambung hidup dengan berjualan keripik pisang. Sang Ibu yang mengolah pisang dengan alat sederhana untuk menjadi keripik pisang, dan si anak bertugas untuk menjajahkan keripik pisang itu tadi. Dengan tanpa memperdulikan rasa malu dan olokan dari sang teman, Rik (begitu anak lak-laki itu dipanggil) berjualan di sekolahnya ketika jam istirahat. Kehidupan dari keluarga ini sangat teramat sederhana, terbatas tetapi tetap bersyukur. Sangat mengesankan dan menyentuh hati, dimana kehidupan mereka jauh dari hingar bingar kemewahan seperti yang sering terlihat di acara sinetron Indonesia kebanyakan. Potret kehidupan kebanyakan masyrakat Indonesia sebenarnya (dalam garis kemiskinan dan jauh dari kata sejahtera) saya temui pada acara ini. Semangat untuk berjuang menghadapi kerasnya kehidupan, tolong menolong, kemandirian, kasih sayang dan tidak putus asa dalam mengejar cita-cita. Rik, seorang anak kecil (saya kira umurnya sekitar 9-10 tahun) sudah mengerti apa itu kerja, meneteskan air mata demi melihat bagaimana sulitnya sang Ibu mencari rejeki untuk mengisi perut, rela menggadaikan masa kecilnya (yang harusnya masih dipergunakan untuk bermain) dan rela menyisihkan uang tabungannya untuk lembeli serutan pisang untuk sangat. I think he so great, pola pikir anak kecil cukup peka dan penuh inisiatif untuk anak seumuran Rik (yang masih jarang saya temui anak seumuran SD seperti itu). Rik juga memiliki cita-cita yang sangat mulia, yakni ingin menjadi dokter. Walaupun mungkin pasti banyak kesulitan yang ditemui Rik dan Ibunya, tapi paling tidak ada bantuan dan perhatian dari kita (terutama dari pemerintah) untuk kehidupan mereka. Mungkin kita tidak mengenal dan tidak tahu siapa mereka, tetapi paling tidak kita sesama masyrakat Indonesia sepatutnya memberi sedikit bantuan untuk kemandirian mereka. Peran pemerintah juga ditunggu (mengingat UUD negara ini juga menjamin kehidupan mereka), terutama aksi nyata dan kebijakan untuk mengentas kemiskinan di negara ini. Bukan sekedar data-data yang kadang terkesan 'bohong', tetapi turun ke lapangan dan melihat fakta secara langsung. Bukan tak terkira kalau masih banyak rumah tangga miskin yang lain seperti Rik dan Ibunya. Dan untuk Rik jangan cepat menyerah, nasibmu masih terlalu dini untuk ditangisi. Belajar dan bekerja yang rajin untuk mengejar cita-citamu, siapa tahu kelak kalian (anak-anak pinggiran yang sekarang kurang beruntung) dapat merubah dan memperbaiki negara bobrok dan pesakitan ini. Amieeen ...
I call them jerk !
Pemandangan miris saya temui tadi sore ketika sedang mengisi bensin di SPBU. Banyak saya lihat mobil-mobil mewah ikut mengantri mengisi bensin premium. Padahal premium yang kemarin harganya akan naik dan mendapat tentangan dari semua rakyat Indonesia dan terutama mahasiswa (dan akhirnya harganya tidak jadi naik 1 April kemarin). Padahal premium merupakan bensin bersubsidi untuk masyarakat kecil. Apa mereka (Orang kaya bermobil mewah dan ikut mengantri bensin premium) itu tidak tahu malu, tidak punya hati. Mereka kan punya uang banyak, kenapa beli pertamax yang harga 1 liternya 10500,- saja tidak mampu ? Belum lagi konsumsi bensinnya yang puluhan liter tiap pekannya. Kontras apabila di bandingkan dengan konsumsi masyarakat bawah yang paling cuma 5 liter tiap pekannya (malah ada yang tidak sama sekali, karena motor saja tidak punya). Woiii, dimana kalian pemerintah ? para wakil rakyat yang katanya pro rakyat? Kalau terus begini sama saja bensin subsidi itu diperuntukkan bagi orang-orang kaya, pejabat korup yang mobilnya mewah, banyak (sampai karatan di garasi karena cuma untuk koleksi semata). Sama saja rakyat kecil dan miskin selalu menjadi korban. Perlu kebijakan yang tepat untuk mengatasi ketimpangan ini, perlu pengawasan, pembatasan dan solusi lain agar subsidi rakyat kecil tepat sasaran. Kalau perlu mobil mewah yang ada di Indonesia dikenakan pajak yang tinggi (supaya tidak ada lagi orang kaya yang hobi nimbun mobil banyak-banyak). Infrastruktur juga perlu dibenshi (angkutan publik, jalan raya dan jembatan), supaya masyarakat bisa beralih ke angkutan umum. Lebih merakyat, mengurangi emisi dan subsidi bensin dapat dialihkan ke subsidi yang lain (pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan). Semoga pemerintah dapat lebih peka dan tanggap terhadap masalah rakyat kecil, dan untuk orang-orang kaya bermobil mewah dapat segera mendapat pencerahan. Andil anda melalui tidak membeli bensin bersubsidi dan membayar pajak lebih tepat guna untuk negara ini.
Label:
critism,
personal,
picture,
point of view
April fools
Hey April, welcoming for you. Do you know if I bore, tire and under preasure. Work, lecture every day, and I think I need some holiday. April hope you give me exciting, lot of fun. And please don't be fools for me.
Subscribe to:
Posts (Atom)


