Saturday Swing With Mocca : Photo Report

Arina was playing her flute, cool

shows a gift from fans

Toma capture photo abou madness concert in Colors
yeeay, I got the ticket
narcism me ! haha
disco light
Wall of fame

fire action-filled concert


Saturday Swing With Mocca


    Yeaay, finally I can see Mocca’s concert again last saturday !! mungkin ini adalah hal yang sangat langkah, mengingat band ini lebih banyak vacum untuk saat ini. Konser bertajuk Saturday Swing yang bertempat di Colors Pub and Resto Surabaya. Hmm, suatu tempat yang ga’ lumrah sebenernya untuk melihat konser band indie, karena kesannya esklusif. Tapi it’s okay, mengingat tiket yang saya beli lumayan murah (cukup 35 ribu saudara-saudara).
   Saya dan pacar (ciyeeh) sampai di venue pukul 18.00 kurang dikit, lebih awal sebenarnya karena menurut kabar burung yang ditangkap open gate memang jam segitu. Maklumlah, kita hidup di Indonesia yang menjunjung tinggi budaya Rubber Duck (uupss). Sambil menunggu open gate dan tiket (ceritanya kami berdua nitip beli dari temen-temen SF Malang) kami berdua sempetin dulu utuk foto-foto di depan baliho segede gaban yang ada fotonya Mocca. Semakin malam merayap tampak penonton dan penikmat music Mocca seantero Surabaya dan sekitarnya berdatangan. Dan setelah temen-temen SF datang dan tiket didapat akhirnya kami berdua masuk. Mocca here we come !
    Colors Café, mungkin tidak banyak yang berubah dari terakhir kalinya saya kesini. Bangunan colonial Belanda dan suasana café yang emang cozy dan sedikit remang tentunya. Masuk kami dilema dengan menu yang ditawarkan, sebotol kecil soft drink kita harus mengeluarkan extra cash sebesar 25 Ribu (mahal, padahal embel-embelnya special price). Lumayan lama kami menunggu mocca naik gigs, penonton mulai berjubel dan suasana semakin menghangat. Tapi tepat pukul 19.30 WIC (Waktu Indonesia Colors) akhirnya Mocca keluar juga. Sempat speaking sebentar, merka langsung menghajar kita (para penonton yang sudah bersabar menunggu saat ini) dengan lagu-lagu hits mereka seperti I love you anyway, Butterfly in my tummy, I would never, I remember, Friends dan lain-lain. Sekitar 15 lagu mereka bawakan dengan lagu terakhir it’s over now menutup malam minggu swing. Eits, but that’s not realy over. Ternyata mereka balik lagi. Ada dua extra songs yang Mocca berikan untuk kita para SF yang hadir malam itu, Secret admirer dan Swing it Bob benar-benar menutup konser malam itu.
   Puas, senang, terharu, capek dan tongpes (kantong kempes) adalah kata-kata yang mewakili konser Mocca kemarin. Puas dan senang karena akhirnya dapat melihat meraka manggung lagi. Terharu karena mereka bakal vakum lagi, entah untuk berapa lama lagi. Capek dan tongpes adalah efek lain (hahaha). But that’s beautiful Saturday night ever, melihat mocca yang langkah dan ditemani pacar yang memang sudah tidak banyak malam minggu yang kita lewati bareng. Thanks God.

Spirit of MAJAPAHIT

Sudah siapkah saya, kamu, mereka dan kita semua untuk mengemban tugas ini ?

All in INDONESIA


    Saya rasa terlalu banyak kata-kata yang mewakili perasaan kita tentang Indonesia tercinta ini. Baik, buruk, indah, jelek semuanya campur aduk. Tetapi bagaimanapun saya selalu cinta dengan negeri yang indah ini. Negeri yang memberikan tanahnya untuk saya berpijak, berjalan, berlari dan tertidur di dalamnya. Negeri yang memberikan airnya untuk minum, mandi dan juga untuk makan. Bangsa besar yang tertidur pulas, seolah-olah kebesaran dan kemashyuran dahulu kala tercabut oleh masyarakatnya yang semakin merongrongnya. Indonesiaku yang indah, Indonesiaku tercinta. Segeralah bangun dan bangkit dari keterpurukan. Maafkan kami yang membuatmu seperti di ujung tanduk saat ini.

Selokuro Rainy Trip

     Yeaay, akhirnya liburan juga hari minggu kemarin. Walaupun tidak ke tempat wisata yang jauh atau mall-mall di Surabaya yang dingin dan memanjakkan nafsu belanja. Tujuan saya dan teman-teman adalah Lamongan, tepatnya kecamatan Selokuro. Ada beberapa alasan kami pergi ke desa yang masih asri ini, pertama adalah untuk urusan bisnis, kedua liburan tentunya dan terakhir adalah mengantar teman saya Agung mudik. hehehe
     Perjalan siang kemarin agak sendu mendayu-dayu, mendung dan gerimis mengundang menemani kami. Benar saja, sampai di daerah Sembayat (Gresik), kami bertiga sudah basah kuyup terkena air hujan dan cipratan air dari kendaraan lain. Menjegkelkan tentunya, tapi nikmati sajalah perjalanannya. Kami tiba di kecamatan Selokuro tepat pukul 2 siang, pemandangan khas desa dan rutinitas pribumi sekitar menyambut kami bertiga. What heaven like that, huh ?












































      Setelah rehat sebentar di rumah Agung, kami akhirnya menuju ladang tempat rencana kami bertiga akan berternak lele. Selain itu kami juga akan megembangkan budidaya Rosella. Cukup menjanjika saya pikir, mengingat dua komoditi ini (lele dan rosella) cukup digemari masyarakat luas. Ini peluang untuk kami bertiga, kesempatan yang akan maksimalkan agar mendapatkan suatu yang besar nantinya. Hahaha
      Ladang di desa sini masih sangat subur. Banyak hamparan tanah merah, yang konon adalah tanah yang baik untuk bercocok tanam karena tingkat kesuburan yang tinggi. Didukung dengan ketersediaan air yang sangat melimpah. Benar-benar Indonesia-ku yang subur dan kaya.


























      














      




      Jujur sangat menyenangkan dapat bermain hujan-hujanan dan jalan di ladang hijau yang asri. Banyak yang saya temui disini, daun hijau yang basah, bau tanag yang alami, buah-buahan dan juga binatang khas pedesaan. Sebelum saya kembali ke rumah untuk segera pulang ke Gresik, saya sempatkan untuk menggambil beberapa daun singkong muda. Hitung-hitung sebagai oleh-oleh untuk Ibu tercinta di rumah.
Gerimis, ladang hijau, orang-orang desa yang ramah dengan alamnya yang segar. That's perfect Sunday for me, thanks God !

instagram's corner : Bali holy-time



" Solid as a rock, a statue of the grim guards  "


" Temple, monkey was sleeping. I thought this was a unique sight. haha "


" Time to enjoy paradise, waves, white sand and my feet were bare of course "













" This is heaven, red sky, sunset and waves "













" Evening the atmosphere was getting hotter with burned with Kecak dance "

Sudahkah Menjadi Indonesia



Bukan, kita bukan sedang membahas salah satu lagu dari Efek Rumah Kaca yang berjudul sama dengan tulisan saya ini. Karena saya tidak dalam mood yang bagus untuk membahas hinggar bingar musik indie Indonesia sekarang. Tapi mungkin masih ada kaitannya sedikit, secara ketika kita berbicara tentang Indonesia.  Pasti terdengar banyak suara sumbang, nada mengejek dan lirik negatif yang selalu mengiringi alunan langkah Negara ini. Apakah seburuk itukah penampilan bangsa kita ini ? hingga kita menjadi malu, luntur dalam kagum dan kehilangan rasa mencintai Indonesia.
Berbicara tentang Indonesia dewasa ini, seolah kita berbicara mengenai diri kita sendiri. Kenapa ? Karena ketika sedang berbicara tentang Indonesia, berarti kita sedang membicarakan suatu anomali. Ketika kita membahas mengenai Indonesia kedalam berbagai wacana atau teori, maka siap-siap saja untuk geleng-geleng kepala. Karena saya yakin, tidak ada satupun konsep atau teori yang bersinggungan dengan realita bangsa kita saat ini. Sampai kita berdebat pun juga percuma, hanya malah membuat kita pusing, kesal dan capek sendiri.
Inilah lucunya Negara kita, Ketika masyarakat Indonesia (termasuk kita) telah terbiasa hidup dalam keanomaliaan ini. Seolah-olah permasalahan bangsa, seperti : masih tingginya tingkat kemiskinan, kesenjangan sosial, besarnya angka pengangguran, buruknya pelayanan kesehatan, pendidikan yang mahal sampai bobroknya birokrasi pemerintah yang doyan korupsi, adalah hidangan kita setiap hari tanpa solusi dan langkah real untuk membenahinya. Kita sebagai kaum muda dan (yang katanya) sebagai agen perubahan kian tidak peduli, acuh dan masa bodoh terhadap nasib bangsa sendiri. Mungkin kepedulian kita hanya pada tataran forum diskusi maupun seminar, yang menurut saya hanya ajang untuk mengadu-adukan teori dan debat kusir belaka. Yang menang diskusi yang jumawa, kemudian pergi dengan idealismenya yang kemudian terkubur membusuk.
Saya merasa nasib Indonesia semakin lama semakin tidak jelas, kaum mudanya saja semakin tidak konkrit karena kurang akan nilai-nilai patriotisme. Bukannya saya bermaksud menggurui tentang apa itu nasionalisme dan bela Negara, saya hanya berdasarkan dengan apa yang terjadi di Indonesia dewasa ini. Saya ambil contoh, masih banyaknya mahasiswa yang suka bahkan bangga ketika dapat bekerja di perusahaan asing dan menjadi ahli disana. Dari pada tinggal di tanah airnya sendiri untuk berjuang, berusaha sebaik dan semaksimal mungkin demi kemajuan bangsanya. Inilah ironi, seolah bisa dikatakan Indonesia itu hidup segan matipun enggan.
 “ Lekas bangun dari tidur berkepanjangan
Menyatakan mimpimu, cuci muka biar terlihat segar
Merapikan wajahmu, masih ada cara menjadi besar ”

Mungkin lirik lagu Efek Rumah Kaca diatas mampu  mewakili harapan kita kaum muda yang masih peduli atas nasib bangsa ke depan dan masih memiliki impian untuk melihat Indonesia bak raksasa yang sedang mati suri tiba-tiba terbangun dan bangkit untuk maju mengejar ketertinggalannya. Mengingat potensi dari Negara Indonesia yang sangat besar, baik dari sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Yang apabila bisa disinergikan dengan baik dan mampu diolah secara mandiri oleh anak-anak bangsa sendiri niscaya akan mengantar Indonesia bebas dari belenggu permasalahan dan krisis yang ada saat ini. Memang ini tidak bisa dilakukan secara total dan dalam waktu yang singkat. Tetapi saya yakin jika dilakukan secara step by step dan sustainable process, perlahan akan terlihat hasilnya. So, sudahkah saya, anda, kita menjadi Indonesia ? Yang rela berkorban dan memberikan segenap apa yang kita punya untuk Indonesia tercinta ini.