Showing posts with label human interest. Show all posts
Showing posts with label human interest. Show all posts

Aisyah, Gadis Kecil Tangguh Berhati Mulia


   Cukup tertarik pada saluh satu berita di televisi yang saya tonton barusan. Bukan berita tentang politik, ekonomi atau bahkan gosip. Hanya berita yang menggambarkan sosok gadis kecil berusia delapan tahun yang merawat ayahnya yang sakit bebrapa tahun belakangan ini. Sungguh menggugah hati, pasalnya Siti Aisyah hanyalah gadis kecil, tetapi setiap harinya berusaha merawat, menjaga dan  menghidupi ayahnya dan juga dirinya diatas becak. Memang ada yang membantu, dengan memberi uang dan makanan, tetapi mereka bukan mengemis.
   Apa yang bisa saya atau kita pelajari dari kisah Aisyah ini adalah jangan mudah menyerah, jangan mengeluh, terus berusaha, terus bertahan atas apa yang menjadi cobaan hidupmu. Karena hidup adalah perjuangan, dan percayalah suatu saat nanti akan indah pada saatnya. Untuk Aisyah, kamu hebat dik !

Boy with the stars in his eyes

Memang saya memiliki kebiasaan untuk melihat acara reality show betema sosial di televisi kalau kebetulan tidak ada kuliah. Biasanya rutinitas pulang kerja pukul 5 sore, kemudian di lanjut perkuliahan (yang kadang membuat saya pulang ke rumau cukup larut) cukup melelahkan badan dan pikiran saya. Tetapi kebetulan kemarin ada libur (bertepatan dengan tanggal merah), jadi saya dapat sedikit refreshing sembari kenikmati acara televisi kesukaan. Menayangkan tentang kehidupan seorang janda dengan anak laki-laki semata wayangnya, mereka bertahan dan menyambung hidup dengan berjualan keripik pisang. Sang Ibu yang mengolah pisang dengan alat sederhana untuk menjadi keripik pisang, dan si anak bertugas untuk menjajahkan keripik pisang itu tadi. Dengan tanpa memperdulikan rasa malu dan olokan dari sang teman, Rik (begitu anak lak-laki itu dipanggil) berjualan di sekolahnya ketika jam istirahat. Kehidupan dari keluarga ini sangat teramat sederhana, terbatas tetapi tetap bersyukur. Sangat mengesankan dan menyentuh hati, dimana kehidupan mereka jauh dari hingar bingar kemewahan seperti yang sering terlihat di acara sinetron Indonesia kebanyakan. Potret kehidupan kebanyakan masyrakat Indonesia sebenarnya (dalam garis kemiskinan dan jauh dari kata sejahtera) saya temui pada acara ini. Semangat untuk berjuang menghadapi kerasnya kehidupan, tolong menolong, kemandirian, kasih sayang dan tidak putus asa dalam mengejar cita-cita. Rik, seorang anak kecil (saya kira umurnya sekitar 9-10 tahun) sudah mengerti apa itu kerja, meneteskan air mata demi melihat bagaimana sulitnya sang Ibu mencari rejeki untuk mengisi perut, rela menggadaikan masa kecilnya (yang harusnya masih dipergunakan untuk bermain) dan rela menyisihkan uang tabungannya untuk lembeli serutan pisang untuk sangat. I think he so great, pola pikir anak kecil cukup peka dan penuh inisiatif untuk anak seumuran Rik (yang masih jarang saya temui anak seumuran SD seperti itu). Rik juga memiliki cita-cita yang sangat mulia, yakni ingin menjadi dokter. Walaupun mungkin pasti banyak kesulitan yang ditemui Rik dan Ibunya, tapi paling tidak ada bantuan dan perhatian dari kita (terutama dari pemerintah) untuk kehidupan mereka. Mungkin kita tidak mengenal dan tidak tahu siapa mereka, tetapi paling tidak kita sesama masyrakat Indonesia sepatutnya memberi sedikit bantuan untuk kemandirian mereka. Peran pemerintah juga ditunggu (mengingat UUD negara ini juga menjamin kehidupan mereka), terutama aksi nyata dan kebijakan untuk mengentas kemiskinan di negara ini. Bukan sekedar data-data yang kadang terkesan 'bohong', tetapi turun ke lapangan dan melihat fakta secara langsung. Bukan tak terkira kalau masih banyak rumah tangga miskin yang lain seperti Rik dan Ibunya. Dan untuk Rik jangan cepat menyerah, nasibmu masih terlalu dini untuk ditangisi. Belajar dan bekerja yang rajin untuk mengejar cita-citamu, siapa tahu kelak kalian (anak-anak pinggiran yang sekarang kurang beruntung) dapat merubah dan memperbaiki negara bobrok dan pesakitan ini. Amieeen ...

Save our Papua


The case in Papua certainly worrying everyone, especially the security forces in this country, after the conflict in Aceh after the Helsinki MoU, the turmoil has pushed in Papua, we regret very much what our country has always just be "the game" parties who have interests?, Why armed violence also needs to happen? is there any solution to the problem of Papua for the tranquility and peace of this country?
This is a big challenge for the Government of Indonesia. Because, if the Government does not solve this problem elegantly by considering the Papua society, as well as the triggering factor common solutions to common interests, Papua will experience a "tsunami" of politics that could have led to the disintegration (separation), as well as East Timor.
Proverb that often our daily "where there is sugar there is the ants' right would describe the current condition of Papua. Papua is like sugar which abundant natural resources (SDA) was, ants are local entrepreneurs, national and international fight over the sweetness of Papua. Even the horrendous news that allegedly there are 70 American soldiers who guarded the Freeport gold mine. It was not only the level mengindasikan businessman who played in Freeport but had reached the state level, particularly the United States.
In addition to rich natural resources, Papua is also "rich" will be conflict, strategic issues at the root of the problem in Papua. First, the marginalization and discrimination against indigenous Papuans. Secondly, there is a failure in the field of economic development, education and health. Third, there are different perceptions about the history of Papua or Irian especially about the Act of Free Choice 1969 and the UN-sponsored U.S. according to most of the people of Papua is not valid. Fourth, there is a prolonged trauma since 1966 to power during the New Order as a result of military operations.
Papua problem is a problem that could have occurred in other areas across the country and even the Muslims. Particularly in Indonesia East Timor case it is enough to be a big lesson for the nation, do not let it happen again. Actually the problem of disintegration, a referendum can not be completed until independence in the application of the capitalist system. These problems can only be resolved by applying Islamic kaffah. For example in terms of economic and natural resource management, Islam stipulates that the abundant deposits of natural wealth, such as copper and gold mine in Papua designated as common property. The results gathered in the processing in the state treasury and distributed to finance the construction and service to all citizens without exception. 
Citizens in the eyes of Islam must be treated fairly, there should be no discrimination on the basis of ethnicity, race, color, race, races, religions and groups in terms of government services to them. Rules like these that will save from the Papuan conflict and the desire for independence.

photo sources : Hendrik F Wieland photo album (with adobe CS4 re-touched)

Romantisme Kehidupan Pemulung



Why mesti Pemulung ?? padahal mereka lebih berkesan kumuh, miskin, kotor dan orang-orang malas yang tidak berpendidikan. Nothing special. Mereka yang kerjanya hanya mengais sisa-sisa sampah, mereka yang menggelandang (tidak punya rumah), mereka yang kebanyakan hidup di garis kemiskinan Negara ini. Subyektifitas para pemulung-pemulung hanyalah kata-kata dan statement negative itu tadi. Apa hanya itu saja yang mendeskripsikan seorang pemulung ?? Tentu saja tidak ..

Menurut saya, mereka itu sekumpulan orang-orang aktif, ulet dan kreatif. Dengan kekurangan yang mereka miliki (kemiskinan, pendidikan yang kurang, tidak adanya lahan pekerjaan yang layak dan pantas), mereka selalu mencoba tetap survive menjalani kehidupan ini. Terpaan terik matahari yang menyengat, bau sampah dan kotoran dari berbagai macam tanpa ada rasa jijik dan malu-malu, mebalik-balik sampah guna mengumpulkan barang bekas baik kertas, kardus, besi, plastik dan lain yang bisa dijual kembali kepada para pengepul. Mereka adalah pahlawan kebersihan lingkungan tanpa tanda jasa, selain Bapak/Ibu pasukan kuning (dan tentunya instansi Dinas Kebersihan dan Tata Kota).
Tetapi mengapa kadang keberadaan mereka cenderung termarjinalkan ? Jadi buruan SATPOL PP dan kadang menjadi musuh warga karena asumsi bahwa kadang mereka  juga mencuri (?) Mereka hanyalah orang-orang yang miskin (dalam artian kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya), Orang-orang yang tertindas karena kebijakan-kebijakan Negara ini.

Jadi mulai sekarang ubah sudut pandang anda terhadap meraka. Tidak semua pemulung memiliki citra buruk dan kumuh, menjadi pemulung juga membutuhkan proses (dan tentu saja itu pilihan hidup). Malah kalau lebih kita dalami kehidupan mereka, banyak pelajaran dan ilmu positif. Bagaimana kegigihan dan keuletan mereka sehingga menjadi orang-orang sukses (untuk ini sudah banyak contohnya di negeri ini). Dan tidak semestinya kemiskinan itu dilanggengkan melalui struktur-struktur social yang terus mengungkung golongan miskin sehingga mereka tiada lain hanyalah robot-robot yang senantiasa terkendali. Karena kita semua sama-sama mahluk ciptaan Tuhan, sama-sama satu Negara Indonesia dan mulai sekarang hilangkan perbedaan. Budaya peduli terhadap sesama dan saling menghargai untuk INDONESIA SATU !