Ini adalah pengalaman pertama saya mendaki sebuah gunung, bukan gunung tertinggi di tanah Jawa memang. Tapi kemarin itu sangat berkesan. Kenapa ? simple saja jawabannya, saya jadi tau apa itu makna persahabatan, kerja sama tim, menghargai alam, mencintai apa yang ada di negeri ini dan terakhir, sadar atas kebesaran dan kuasaNya. Pawitran atau sering disebut penanggungan adalah pijakan pertama, mungkin kedepan ada gunung-gunung lain yang insyaallah akan saya tahlukkan. Karena saya memiliki obsesi untuk berdiri di tanah tertinggi di Jawa ini.
Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts
Aisyah, Gadis Kecil Tangguh Berhati Mulia
Cukup tertarik pada saluh satu berita di televisi yang saya tonton barusan. Bukan berita tentang politik, ekonomi atau bahkan gosip. Hanya berita yang menggambarkan sosok gadis kecil berusia delapan tahun yang merawat ayahnya yang sakit bebrapa tahun belakangan ini. Sungguh menggugah hati, pasalnya Siti Aisyah hanyalah gadis kecil, tetapi setiap harinya berusaha merawat, menjaga dan menghidupi ayahnya dan juga dirinya diatas becak. Memang ada yang membantu, dengan memberi uang dan makanan, tetapi mereka bukan mengemis.
Apa yang bisa saya atau kita pelajari dari kisah Aisyah ini adalah jangan mudah menyerah, jangan mengeluh, terus berusaha, terus bertahan atas apa yang menjadi cobaan hidupmu. Karena hidup adalah perjuangan, dan percayalah suatu saat nanti akan indah pada saatnya. Untuk Aisyah, kamu hebat dik !
Label:
human interest,
indonesia,
inspirational figures,
potrait,
social,
story
Jogja's Sunny Holiday
Finally, setelah sekian lama menunggu, akhirnya saya dapat kembali ke salah satu kota romantis di Indonesia. Yogyakarta, terakhir kali saya kunjungi sekitar tahun 2008. Cukup lumayan lama, maka tidak ada salahnya saya sangat merindukan setiap spot di kota ini (banyak yang sudah berubah !). Tidak banyak yang akan saya tulis kali ini, kecuali kumpulan foto-foto dan kesan liburan saya kemarin. Sunny's City, Good Peoples, Fine Art, Sweet Food, Creative Youth, Wonderful Heritage !
Label:
indonesia,
personal,
potrait,
travel report
Inside Trowulan
Entah untuk berapa kali saya mengunjungi tempat ini, Trowulan. Yang dulunya merupakan bekas ibukota kerajaan besar Majapahit, kota modern pada zamannya, kota dengan arsitektur irigasi air yang canggih. Seperti candu, tidak puas hanya sekali atau dua kali untuk mengunjungi tempat ini. Deretan candi-candi yang berdiri megah mempesona, museum yang menyimpan harta karu majapahit, suasana desa yang asri, alami dan lugu. Ah, what could be more better than peacefully feeling ?
Perjalanan kali ini saya ditemani oleh sahabat saya, Agung, dan mungkin ini adalah pengalaman pertama kalinya dia mengunjungi situs Trowulan. Kami datang memang kesorean, belum lagi suasana Mojokerto yang sedang mendung syahdu. tetapi ini tidak menyurutkan niat kami menikmati pesona Trowulan sore ini.
Situs yang pertama kami datangi adalah, Gapura Wringin Lawang. Saat itu, memang sedang sepi. Tidak ada pengunjung yang datang selain kami. Kesan pertama (atau kesan untuk kesekian kalinya ?), kenapa situs ini tidak ada penjual makanan atau souvenir khas dan unik lainnya. Padahal menurut saya lumayan lho, untuk peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. Tetapi yang kasihan lagi ya petugas penjaga situs ini yang lumayan sepuh atau berumur, kenapa tidak menggunakan potensi muda (yang mengerti tentang sejarah majapahit dan punya passion tentunya). Paling tidak ada regenerasi dan kepedulian dari kaum muda untuk menjaga-melestarikan peninggalan leluhurnya.
Setelah puas dengan Gapura Wringin Lawang, kami berpindah spot ke Candi Bajang Ratu. Dalam perjalanan kami juga melihat Telaga Segaran, cukup ramai, karena banyak warga sekitar yang memancing. Sampai di Candi Bajang Ratu hari semakin beranjak temaram, cukup singkat, kami hanya mengambil beberapa foto dan melihat sekitar (dan candi tentunya). Yang bikin heran, ketika saya melihat ada beberapa muda mudi yang nongkrong. What hell, ini kan candi bukan tempat duduk-duduk atau mojok pacaran. Salah satu contoh gambaran kaum muda yang lupa tempat dan lupa sejarah. ckck
Spot terakhir perjalanan kali ini adalah Candi Tikus (kalau tidak salah ada beberapa yang menyebutnya sebagai Candi Temon). Sebuah tempat pertirtaan/pemandian raja, ratu dan juga bangsawan Majapahit pada zamannya. Waktu beranjak maghrib ketika kami tiba disana. Sambil duduk-duduk, menikmati pesona candi dan juga langit yang menuju senja. Yep, I think this feeling like heaven of world. Perasaan damai, yang mungkin tidak saya dapatkan ketika plesir atau pergi ke tempat ramai dan modern seperti kebanyakan. Perjalanan yang murah, tetapi cukup berkesan, karena apa yang dinamakan kearifan lokal, alam dan juga kesahajaan telah memberi kami kepuasan batin. Hmm, mungkin besok tidak ada salahnya untuk kembali mencari tujuan wisata seperti ini lagi. Semoga ..
Label:
expresion,
indonesia,
potrait,
travel report
Indonesia Ring's of Fire
This land could bleed.
In every disaster there's a faulter to seek.
People meander, wait to retreat.
People forsaken of what they believe.
Does it matter ? Does it matter ?
It's only mattes for a while.
Does it matter ?
(The S.I.G.I.T. - Land of Fire)
Indonesia kembali berduka, belum selesai bencana meletusnya Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Kembali salah satu gunung di pulau jawa juga ikut meletus, ya Gunung Kelut di Jawa Timur tidak dapat menahan lama-lama muntahannya pada kamis malam (13/12/14). Dampaknya tidak main-main, ledakannya mengagetkan seantero wilayah di kediri, blitar dan sekitarnya, kilatan petir dan juga gemuruh juga menemani sang gunung mengeluarkan hajatnya. Hasilnya, lahar dingin menyapu dan merusak pemukiman, sawah dan juga apa yang dilewatinya. Parahnya lagi abu vulkanik juga menghujani hampir seluruh kota-kota di Pulau Jawa. Sungguh bencana yang maha dahsyat.
Sering dalam hati saya bertanya, kenapa negeri yang indah ini juga menyimpan bencana yang bisa saja terjadi setiap saat. Apa karena manusianya yang tidak menjaga dan bersahabat dengan alam atau Tuhan mengutuk kita, manusia-manusia yang tinggal di negeri ini ? Entahlah, ada beberapa jawaban yang bisa saja menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Tetapi yang sangat menarik bagi saya adalah istilah Indonesia ring's of fire. Hmm, apa maksudnya ini ?
Ring's of fire atau apabila kita translate menjadi cincin api pasifik, adalah daerah yang sering mengalami gempa bumi dan juga letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan samudra pasifik. Yang dimana bentuknya menyerupai tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 Km. Secara histografi, Indonesia tercinta ini merupakan wilayah yang sering mengalami gempa bumi, bencana tsunami, banjir dan juga letusan gunung merapi. Ini karena wilayah Indonesia dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Selain merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia, membentang dari mulai pantai barat Amerika Selatan, berlanjut ke pantai barat Amerika Utara, melingkar ke Kanada, semenanjung Kamsatschka, Jepang, Indonesia, Selandia baru dan kepulauan di Pasifik Selatan. Indonesia sendiri memiliki gunung berapi dengan jumlah kurang lebih 240 buah, di mana hampir 70 di antaranya masih aktif.
Hal terbaik yang mungkin bisa kita lakukan khususnya bagi masyarakat Indonesia sendiri ialah berusaha untuk sewaspada mungkin akan datangnya bencana yang mungkin bisa datang secara tiba-tiba. Karena sesungguhnya semua kejadian yang telah atau yang akan terjadi ialah semuanya kembali kepada tuhan yang maha pencipta. Kita sebagai manusia hanya bisa berdo’a semoga kejadian buruk tidak terjadi lagi.
picture source : google, facebook
picture source : google, facebook
Label:
expresion,
hope,
indonesia,
picture,
point of view
Trip to {paradise}
Wow, Subhanallah, mungkin kata-kata itu yang bisa saya ucapkan dalam hati ketika pertama kali membuka mata dan melihat pemandangan diluar sana. Suara deburan ombak, hawa dingin angin yang semilir dari laut, yep it's beach. Beberapa hari yang lalu saya dan teman-teman saya berkesempatan untuk liburan ke pantai. Bukan pantai yang jauh kok, lumayan dekatlah, di pesisir selatan Kabupaten Malang. Pantai Bajul Mati, begitu pantai ini dinamakan. Eksotis dengan hamparan pasir putih serta batuan karang yang menyekat antara daratan dengan Samudra Hindia.
Sayang beribu sayang, keindahan sunrise yang seharusnya bisa didapat pagi itu sirna sudah. Langit tampak muram, mendung pekat sisa semalam dan rintikan gerimis masih saja menemani. Tapi tak apalah, keindahan Pantai Bajul Mati di pagi ini masih bisa dinikmati. Dengan ditemani harum masakan pagi dan teman-teman yang menyenangkan.
Menjelang siang, perjalanan kita lanjutkan menuju spot berikutnya, kemana ? tentu saja masih disekitaran pantai pesisir selatan Malang ini. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari Pantai Bajul Mati, tetapi sayangnya akses dari jalan raya menuju ke pantai ini masih sulit. Mungkin masih kurangnya keseriusan pemerintah untuk mengarapnya. Terpaksa kami melanjutkan perjalanan dari jalan raya dengan berjalan kaki, sebenarnya warga sekitar sudah menyediakan angkutan menuju pantai yakni berupa ojek. Tarifnya pun relatif murah, hanya sepuluh ribu rupiah, tetapi karena kami ingin berjalan-jalan dan menikmati pemandangan akhirnya diputuskan untuk berjalan kaki (bukannya pelit lho). Sepanjang perjalanan menuju pantai (jaraknya sekitar dua kiloan), kami disuguhi dengan berbagai macam view yang menakjubkan. Perbukitan, aneka pepohonan, ladang, kebun pisang dan tentu saja keramahan para penduduk sekitar (bukti kalau konon masyarakat Indonesia yang murah senyum masih belum habis!).
Setelah beberapa menit berjalan akhirnya kami sampai di lokasi pantai, yeaay. Sangat excited, berhubung ini pertama kalinya saya mengunjugi pantai ini dan yang lebih kerennya lagi pantai ini super duper indah viewnya (walaupun lagi-lagi mendung pekat masih belum sirna). Tapi okelah, saya juga hanya ingin menikmati liburan di Pantai Goa Cina ini. Kesan pertama selain keindahan viewnya adalah nama pantai ini sendiri, why must name Goa Cina ? bukannya ini Indonesia. Ternyata oh ternyata setelah ditelisik, dahulu pada tahun 1930 konon ada seorang pertapa berkebangsaan Cina yang bersemedi di goa karang di pantai ini. Dan lebih bikin merinding lagi adalah si pertapa tadi musnah atau bahasa jawanya moksa (nah lho).
Diluar kisah mistis tentang riwayat pantai ini, Goa Cina menyuguhkan keindahan lukisan Allah yang nyata. Hamparan pasir putihnya, ombaknya yang bergulung-gulung dan juga hamparan pulau karang yang tersebar di dekat pantainya, it's perfect. Belum lagi pantai ini juga menyediakan area untuk berkemah, wow. Selain itu masyarakat lokalnya yang ramah dan juga masakan khas yang harganya cukup murah (untuk ukuran mahasiswa tentunya). Yeaah, maka tidak berlebihan kalau wisata saya ini saya namakan road to paradise. Pantai pesisir selatan Malang yang indah, yang tidak kalah dengan pantai sejenis yang masih banyak di seantero Indonesia tercinta ini. Last word, kekayaan yang diberikan Allah untuk negeri ini sangatlah banyak dan cukup sayang menurut saya apabila negara ini hilang bangganya terhadap kearifan lokal dan tradisinya. Sudah cukup kekacauan di negara ini, saatnya menyatukan pikiran dan tenaga untuk membangun, dengan tangan kita sendiri. MERDESA !
Label:
indonesia,
landscape,
picture,
travel report
Berhenti Jadi Buruh, Mulailah Jadi BOS !!!
Beberapa hari belakangan ini kalau saya membaca surat kabar (baik via mobile maupun cetak), pasti banyak yang memampang tentang maraknya demo para buruh di berbagai kota. Mereka para buruh yang tergabung dalam kelompok-kelompok serikat buruh, melakukan konvoi di jalan-jalan (seperti di kota saya beberapa hari yang lalu), mensweeping buruh-buruh lainnya untuk ikut berdemo hingga bersama-sama menuju kantor bupati atau gubernur untuk sekedar berorasi dan mengungkapkan unek-unek mereka (dan tentunya melakukan aksi mogok kerja). Semuanya kembali atas nama keadilan dan kesejahteraan hidup para buruh.
Memang tidak salah atas apa yang diperjuangkan oleh para buruh ini. Dilihat dari tingkat kesejahteraan sosial masih banyak kehidupan buruh yang tidak berkecukupan atau bahkan ada yang sangat kurang. Harga BBM yang mahal, harga SEMBAKO yang juga tinggi dan bahkan kebutuhan-kebutuhan lain yang harganya melangit (biaya kesehatan dan pendidikan). Mungkin ini yang membuat mereka menjerit dan menggerakkan untuk melakukan aksi demo tahunan ini.
Tetapi disini masalahnya bukan hanya pada kesejahteraan buruh saja, angka yang dituntut oleh para buruh saya kira tidak realistis (buruh di provinsi DKI Jakarta bahkan menuntuh angka nominal UMP hingga 3,7 Juta !!). Apa tidak terlalu kebanyakan angka setinggi itu untuk membayar gaji buruh tiap bulan, yang menurut saya hanya berijasa (SMP-SMA) dan hanya bermodalkan otot (tenaga kasar). Misalkan pemprov menyetujui tuntutan para buruh tersebut, apakah ada jaminan mereka akan langgeng bekerja di pabrik atau perusahaannya yang sekarang ? Apakah mereka (para buruh) juga memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas mereka (baik formal, skill atau semangat kerja) yang tentunya dapat meningkatkan review bagi perusahaan ?
Perusahaan pastinya memiliki kemampuan finansial yang berbeda-beda, ada perusahaan yang kuat (mungkin PMA atau BUMN) dan ada juga perusahaan yang biasa-biasa (perusahaan dengan modal terbatas). Disini tentunya perusahaan tidak serta merta mampu memberi upah sedemikian besarnya (misalkan tadi UMP 3,7 Juta), pastinya perusahaan akan melakukan pengurangan jumlah karyawan (buruh) secara besar-besaran untuk menyeimbangkan neraca dan juga efisiensi. Nah, terus bagaimana nasib para buruh yang terkena dampak PHK ini, mencari kerja tentu tidak semudah yang dibayangkan bukan. Yang kedua, jika pun ada yang bertahan (tidak kena PHK), tentunya perusahaan akan menuntut lebih kepada si karyawan (buruh). Bisa saja kerja makin keras, memiliki keahlian khusus atau mampu bekerja ganda (melakukan dua pekerjaan sekaligus). Kalau tidak mampu maka siap-siap hengkang, karena dibelakang para lulusan baru atau bahkan lulusan dengan pendidikan lebih tinggi (D3, S1 atau bahkan S2) akan masuk menggantikannya. Maka saya akan tidak bisa membayangkan, berapa banyak lagi jumlah pengangguran di negeri ini.
Saya teringat kata-kata dari ayah saya, "kalau ingin hidup enak janganlah jadi seorang buruh, manajer atau bahkan PNS sekalipun. Yang bisa bikin kamu kaya ya cuma jadi seorang pengusaha". Dulu saya menanggapinya dengan lalu, semakin beranjak dewasa saya makin faham apa arti kata-kata ayah saya itu. Melihat realita yang ada, mencari pekerjaan susah, modal pintar saja tidak cukup tetapi harus punya skill, belum lagi kalau tidak punya kenalan atau koneksi di perusahaan itu. Yang terus semangat akan terus mencari, yang putus asa atau bahkan depresi akan menyerah dan pasrah digilas roda kehidupan. Satu-satunya oase adalah dengan menjadi sorang pengusaha, ya berjuang menafkahi hidup dengan kemampuan sendiri, berdikari atau istilah kerennya independent. Karena menurut saya ekonomi Indonesia harus berbasis kerakyatan, percaya kepada kemampuan sendiri (baik untuk mengolah sumber alam yang ada), teknologi padat karya yang mampu memberi manfaat untuk sekitar (masyarakat dan lingkungan). Insyaallah Indonesia akan menjadi negara yang kuat dan stabil dalam ekonomi. Dan terakhir, tentunya semakin sedikit saudara-saudara saya yang mulai meninggalkan mental kuli (buruh), berani untuk berdiri tegak dengan kemapuan sendiri dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri tanpa bantuan investor (kaum kapitalis). Indonesia bisa, Indonesia hebat. MERDESA !!!
image sources : eg.baratamedia.com
Label:
critism,
indonesia,
point of view,
potrait
Refleksi 85 Tahun Sumpah Pemuda : Saatnya Pemuda Lebih Ambil Bagian !!
Mungkin bisa dikatakan tulisan saya ini sudah sedikit terasa basi, karena hari sumpah pemuda sudah lewat sehari. Tetapi tidak apalah, toh yang terpenting semangat dan apa yang menjadi buah pikiran saya dapat tertuang dalam tulisan sederhana ini. Bicara tentang sumpah, di Indonesia tercinta ini saya mengetahui ada dua buah sumpah yang telah terucap (yang tentunya sangat berpengaruh dalam perjalanan bangsa ini kedepannya). Yang pertama adalah sumpah palapa yang terucap oleh sang maha patih legendaris kerajaan besar Majapahit Gajah Mada pada tahun 1258 S/1336 M, dimana sumpah itu sangat menggetarkan dan revolusioner pada waktu itu sehingga dapat menyatukan nusantara dalam satu panji dwaja/pataka gula kelapa. Yang akhirnya kini diwarisi oleh bangsa Indonesia sebagai luas negara (walaupun tidak seluas dahulu) dan juga bendera kebangsaan.
Sumpah kedua adalah sumpah pemuda, 27-28 Oktober 1928 pemuda-pemuda dari seluruh Indonesia berkumpul di batavia (jakarta sekarang) dalam kongres pemuda II. Hasil kongres waktu itu para pemuda mengucapkan ikrar berbangsa, bertanah air dan berbahasa satu untuk Indonesia. Tentu saja peristiwa itu sebagai tonggak awal, kristalisasi cita-cita dan juga semangat dalam proses kemerdekaan Indonesia tahun 1945.
Indonesia dewasa ini, mungkin sebagian berpendapat adalah fase terburuk yang tengah dialami negara tercinta ini. Korupsi yang merajalela, pemimpin dan juga pejabat yang saling tikung merebut kekuasaan, harga BBM dan juga bahan pokok lainnya yang melambung tinggi, industrilisasi yang tidak tepat guna, tidak berdaulatnya atas SDA yang melimpah, tingkat pengangguran-kemiskinan-kesenjangan yang tinggi dan berbagai masalah lainnya. Kalau boleh diibaratkan Indonesia kini sedang dikebiri, bukan hanya oleh bangsa asing tetapi juga oleh pribuminya sendiri.
Pertanyaannya sampai kapan ini akan terus berlangsung ? seperti menunggu turunnya hujan di padang pasir, sang satrio paninggit atau ratu adil harus segera muncul untuk mengatasi dan membereskan segala kekacauan ini. Dan yang diharapkan atas itu semua adalah kita, kita sebagai kaum muda, golongan yang membawa perubahan untuk negara tercinta ini. Pemuda dengan berbagai pikiran dan gagasan yang revolusioner, pemuda dengan semangatnya yang membara, pemuda dengan aksi nyata yang kreatif, pemuda yang selalu berpegang teguh pada sang garuda dan pancasila sebagai ideologinya.
Tetapi sudahkan kebanyakan dari kita menjadi kriteria pemuda yang saya tuliskan diatas tadi. Hmm, suatu pertanyaan yang mungkin buat saya sendiri sangat sulit untuk menjawab (selain pastinya sangat menohok kalbu). Karena masih banyak dari kita yang bersikap apatis terhadap kondisi negara ini, masih banyak dari kita yang masih belum bisa memberi sumbangsih nyata untuk negara ini. Memang sangat sulit, mengingat dewasa ini kita sebagai kaum pemuda lebih dimanjakan oleh kemajuan zaman dan teknologi, terbuai dengan kebudayaan luar yang keren daripada belajar tentang kebudayaan leluhur kita sendiri dan berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik (pintar) tanpa tahu harus digunakan untuk apa semua itu. Dan yang paling parah adalah sebagian dari kita terjerumus pada hal negatif dan memalukan. Padahal negara ini sedang membutuhkan kita untuk dapat bangkit kembali, membutuhkan kita untuk memperbaiki apa yang rusak dan kurang.
Kabar baiknya sebagian dari kita sudah ada yang memulai hal-hal positif demi kemajuan bangsa ini, ada yang menggagas sahabat pulau untuk memberi pendidikan temen-teman kita di pulau terpencil Indonesia, ada yang melalui gerakan-gerakan independen untuk memberdayakan dan memberi pendidikan untuk anak-anak jalanan, ada yang menjuari kejuaraan internasional diberbagai disiplin ilmu, timnas sepakbola U-19 yang memberi gelar juara AFF (gelar yang telah lama dinanti-nantikan) dan banyak lainnya. So, bagaimana dengan saya, kamu, atau kita yang masih belum bergerak ini. Demi Indonesia yang lebih baik maka segeralah untuk aksi nyata, semampu kita, sesuai keahlian kita. Terakhir, selamat hari sumpah pemuda untuk kita semua, masyarakat muda Indonesia. Merdesa !!
Label:
critism,
expresion,
hope,
indonesia,
point of view
Kenapa Kawula Merdesa ?
Cukup
banyak orang, teman atau bahkan customer
yang seringkali bertanya tentang hal ini kepada saya, “ Mas, kenapa kok nama
usahanya Kawula Merdesa ?” Kalau boleh jujur nama ini sangat special untuk
saya, berasal dari kata-kata berbahasa jawa (bukan berarti saya termasuk orang
yang sukuisme), arti kata kawula yang berarti orang, sekumpulan orang dan
merdesa, yang berarti hidup dengan layak (yang saya ketahui setelah membaca
buku karya Pandji Pragiwaksono yang berjudul Berani Mengubah). Jadi kalau
digabungkan menjadi orang atau sekumpulan orang yang berusaha untuk dapat hidup
secara layak.
Merdesa,
mungkin mirip dengan kata merdeka yang berarti bebas, mandiri atau berdiri
sendiri. Semua tahu Negara tercinta ini sudah lama merdeka dari penjajahan.
Tetapi apakah kita sudah benar-benar merasakan bagaimana menjadi orang yang
hidup merdeka dan merdesa ? Mungkin segelintir orang sudah ada yang merasakan
bagaimana rasanya merdesa, sisanya atau bahkan kebanyakan dari penduduk Negara
ini saya pikir masih hidup dalam kondisi yang bisa dikatakan kekurangan atau
miskin. Indonesia tercinta ini juga masih kurang berdaulat (baca: merdeka) di
rumah sendiri, karena masih dikuasai oleh penjajahan dalam bentuk lain (ekonomi,
budaya, dll.). Yang paling mengelus dada terutama bagaimana kekayaan alam kita
yang diekspoitasi secara habis-habisan oleh asing melalui perusahaan-perusahaannya
yang berdiri di negara ini atas nama investasi. Yang menyebabkan kita (para
pribumi) hanya puas menjadi buruh dan puas menikmati remah-remah buangan dari
apa yang seharusnya bisa kita nikmati sepenuhnya.
Saya
pikir solusi untuk permasalahan ini adalah bagaimana kesadaran kawula (orang,
masyarakat) Indonesia untuk sadar bahwa kita adalah individu merdeka yang bisa
hidup mandiri atas daya dan kekuatan kita sendiri. Seperti kata Bung karno, “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan
dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang
merdeka”. Maka kesadaran saya adalah bagaimana untuk hidup ini kita harus
percaya atas kemampuan sendiri yang dalam artian berani untuk berwirausaha
(entrepreneur), menciptakan lapangan pekerjaan, memberdayakan masyarakat
sekitar dan mensinergikan antara komoditi local dengan teknologi secara arif.
Sehingga ke depan kehidupan kawula Indonesia bisa hidup layak (merdesa),
sejahtera, gemah ripah loh jinawi seperti kemasyuran Indonesia masa lampau.
Maka setelah mendengar penuturan saya ini, banyak orang yang bilang arti kata
ini sangat filosofis, tapi untuk saya kata-kata ini mengandung doa, harapan dan
cita-cita yang harus diperjuangkan. Bukan hanya untuk usaha yang sedang saya
jalankan saat ini, tetapi untuk kehidupan kawula Indonesia. Merdeka dan Merdesa
!!
Malang Holy-time (part 2) : La Gorgeous Payung Teduh
I finally get to see a live performance from Payung Teduh ! Reconcile and also amazing, maybe just two words that I can give to a concert on Monday (6/5) yesterday evening. The concert, titled Rhytme of Love held at the Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), in addition to performing of Payung teduh also appearance of indie bands Malang others and also coincided with the launching of a local band album called Ice Cream. Here's a little note and a glance from me about this concert.
Me and the girlfriend (ciyeeh) arrived at the venue at 8 passing, late I think, given the open gate that had started at 3 pm. Came, we were immediately exchanged our pre-sale tickets with the original ticket and after that we had to pass through multiple layers of security guard (huft). Before entering into the dome, me and girlfriend took the photos first. Incidentally in front of the committee has provided a wall of fame for place photo (little bit narcism).
Entered, we both immediately treated by a row of indie bands Malang (I do not memorize the names of the band) who brought the hero of each song. My judgment, they (indie bands Malang) is very attractive, the instrument of the good games combined with cool sound effects. Yeaah, I think they're so cool and great. But of several bands that performed that can steal my attention was the band Undah-Undih. Ndagel style of standup comedy and musicality that catchy 80's rock I think is a successful combination made the audience (including me) were very entertained. Not to mention two girls songstress who geulis pisan euy (hahaha).
After performing from Undah Undih, I think the next band is Payung Teduh. Eits was wrong, next is the band performing Ice Cream. New Comer in the realm of indie music Malang, they were lined up as the owner of this event brought approximately 4 songs from their new album (which was launched all). I do not want to talk at length about this band (given my shallow knowledge about the indie band scene Malang and in particular the band itself). But I think this band is more suited as a duet for the vocalist with the other as a drover (ckck). Though the musicality arguably passable vocalist and sound (especially the girls) were fantastic. Oh yaa, still in my opinion, the band also looks a bit arrogant.
At 12 over, eventually Payung Teduh went up on stage. Before playing a row of their hits. Is the vocal invites us all to sing the song "Bagimu Negeri". Solemn atmosphere and sing along sound echoed throughout the dome. Completed, Payung Teduh immediately play "Berdua Saja", "Kucari Kamu", "Sisa-sisa Keihklasan " & "Angin Pujaan Hujan". After the last song played minor incidents occurred, the committee cut the time in which the band performing. The result of hundreds of attendees and Payung Teduh own personnel also had to be disappointed. But, all immediately relieved by playing the song "Menuju Senja" and "Untuk Wanita Dalam pelukan". Sad but sweet, that's the ending of the Payung Teduh's concert that night. Hopefully tomorrow can meet and see the Payung Teduh concert again. Oh forgetfulness, me, my girlfriend and my friend had the opportunity to photograph together with personnel of Payung Teduh (Is, vocalist & Comi, bass). That's a special moment with them, it turns out they are friendly and humble.
Label:
indonesia,
inspirational figures,
music,
potrait
Malang Holy-time (part 1) : FABULEUX BATU SECRET ZOO
Yeay, finally I can get back vacation. although for the holidays not far away, I was going to Malang. Have not counted how many times I visit this city, especially visiting the sights. But this special time, because I was with my friends working in ALMAHA. And this little story about the trip yesterday.
As usual Batu town offering coolness and natural beauty with a backdrop of mountains and hills. Not to mention the atmosphere harmony of rural and agricultural, that made me enchanted. Our vacation destination this time is to visit Batu Secret Zoo. Honestly, this is the first time I went here. So I was very enthusiastic and enjoy. Batu Secret Zoo offers a concept of modern zoo that combined with a variety of rides and wildlife museum inside as well. Exciting, because I get to see and learn about the animals of course. And surrounds this place also takes a long time, because the place is huge!!
Trip around Batu Secret Zoo is completed at four o'clock. Tired, Happy and satisfied that I have feel. And before ending concludes with pictures with ALMAHA friends in front of the Museum Satwa. But I have not finished holiday, because the next day I was there the other exciting trips in this cold city.
As usual Batu town offering coolness and natural beauty with a backdrop of mountains and hills. Not to mention the atmosphere harmony of rural and agricultural, that made me enchanted. Our vacation destination this time is to visit Batu Secret Zoo. Honestly, this is the first time I went here. So I was very enthusiastic and enjoy. Batu Secret Zoo offers a concept of modern zoo that combined with a variety of rides and wildlife museum inside as well. Exciting, because I get to see and learn about the animals of course. And surrounds this place also takes a long time, because the place is huge!!
Trip around Batu Secret Zoo is completed at four o'clock. Tired, Happy and satisfied that I have feel. And before ending concludes with pictures with ALMAHA friends in front of the Museum Satwa. But I have not finished holiday, because the next day I was there the other exciting trips in this cold city.
Label:
indonesia,
personal,
potrait,
travel report
All in INDONESIA
Saya rasa terlalu banyak kata-kata yang mewakili perasaan kita tentang Indonesia tercinta ini. Baik, buruk, indah, jelek semuanya campur aduk. Tetapi bagaimanapun saya selalu cinta dengan negeri yang indah ini. Negeri yang memberikan tanahnya untuk saya berpijak, berjalan, berlari dan tertidur di dalamnya. Negeri yang memberikan airnya untuk minum, mandi dan juga untuk makan. Bangsa besar yang tertidur pulas, seolah-olah kebesaran dan kemashyuran dahulu kala tercabut oleh masyarakatnya yang semakin merongrongnya. Indonesiaku yang indah, Indonesiaku tercinta. Segeralah bangun dan bangkit dari keterpurukan. Maafkan kami yang membuatmu seperti di ujung tanduk saat ini.
Selokuro Rainy Trip
Yeaay, akhirnya liburan juga hari minggu kemarin. Walaupun tidak ke tempat wisata yang jauh atau mall-mall di Surabaya yang dingin dan memanjakkan nafsu belanja. Tujuan saya dan teman-teman adalah Lamongan, tepatnya kecamatan Selokuro. Ada beberapa alasan kami pergi ke desa yang masih asri ini, pertama adalah untuk urusan bisnis, kedua liburan tentunya dan terakhir adalah mengantar teman saya Agung mudik. hehehe
Perjalan siang kemarin agak sendu mendayu-dayu, mendung dan gerimis mengundang menemani kami. Benar saja, sampai di daerah Sembayat (Gresik), kami bertiga sudah basah kuyup terkena air hujan dan cipratan air dari kendaraan lain. Menjegkelkan tentunya, tapi nikmati sajalah perjalanannya. Kami tiba di kecamatan Selokuro tepat pukul 2 siang, pemandangan khas desa dan rutinitas pribumi sekitar menyambut kami bertiga. What heaven like that, huh ?
Setelah rehat sebentar di rumah Agung, kami akhirnya menuju ladang tempat rencana kami bertiga akan berternak lele. Selain itu kami juga akan megembangkan budidaya Rosella. Cukup menjanjika saya pikir, mengingat dua komoditi ini (lele dan rosella) cukup digemari masyarakat luas. Ini peluang untuk kami bertiga, kesempatan yang akan maksimalkan agar mendapatkan suatu yang besar nantinya. Hahaha
Ladang di desa sini masih sangat subur. Banyak hamparan tanah merah, yang konon adalah tanah yang baik untuk bercocok tanam karena tingkat kesuburan yang tinggi. Didukung dengan ketersediaan air yang sangat melimpah. Benar-benar Indonesia-ku yang subur dan kaya.
Jujur sangat menyenangkan dapat bermain hujan-hujanan dan jalan di ladang hijau yang asri. Banyak yang saya temui disini, daun hijau yang basah, bau tanag yang alami, buah-buahan dan juga binatang khas pedesaan. Sebelum saya kembali ke rumah untuk segera pulang ke Gresik, saya sempatkan untuk menggambil beberapa daun singkong muda. Hitung-hitung sebagai oleh-oleh untuk Ibu tercinta di rumah.
Gerimis, ladang hijau, orang-orang desa yang ramah dengan alamnya yang segar. That's perfect Sunday for me, thanks God !
instagram's corner : Bali holy-time
" Solid as a rock, a statue of the grim guards "
" Temple, monkey was sleeping. I thought this was a unique sight. haha "
" Time to enjoy paradise, waves, white sand and my feet were bare of course "

" This is heaven, red sky, sunset and waves "

" Evening the atmosphere was getting hotter with burned with Kecak dance "
Label:
indonesia,
potrait,
story,
travel report
Subscribe to:
Posts (Atom)












































