Ini adalah pengalaman pertama saya mendaki sebuah gunung, bukan gunung tertinggi di tanah Jawa memang. Tapi kemarin itu sangat berkesan. Kenapa ? simple saja jawabannya, saya jadi tau apa itu makna persahabatan, kerja sama tim, menghargai alam, mencintai apa yang ada di negeri ini dan terakhir, sadar atas kebesaran dan kuasaNya. Pawitran atau sering disebut penanggungan adalah pijakan pertama, mungkin kedepan ada gunung-gunung lain yang insyaallah akan saya tahlukkan. Karena saya memiliki obsesi untuk berdiri di tanah tertinggi di Jawa ini.
Showing posts with label travel report. Show all posts
Showing posts with label travel report. Show all posts
Jogja's Sunny Holiday
Finally, setelah sekian lama menunggu, akhirnya saya dapat kembali ke salah satu kota romantis di Indonesia. Yogyakarta, terakhir kali saya kunjungi sekitar tahun 2008. Cukup lumayan lama, maka tidak ada salahnya saya sangat merindukan setiap spot di kota ini (banyak yang sudah berubah !). Tidak banyak yang akan saya tulis kali ini, kecuali kumpulan foto-foto dan kesan liburan saya kemarin. Sunny's City, Good Peoples, Fine Art, Sweet Food, Creative Youth, Wonderful Heritage !
Label:
indonesia,
personal,
potrait,
travel report
Inside Trowulan
Entah untuk berapa kali saya mengunjungi tempat ini, Trowulan. Yang dulunya merupakan bekas ibukota kerajaan besar Majapahit, kota modern pada zamannya, kota dengan arsitektur irigasi air yang canggih. Seperti candu, tidak puas hanya sekali atau dua kali untuk mengunjungi tempat ini. Deretan candi-candi yang berdiri megah mempesona, museum yang menyimpan harta karu majapahit, suasana desa yang asri, alami dan lugu. Ah, what could be more better than peacefully feeling ?
Perjalanan kali ini saya ditemani oleh sahabat saya, Agung, dan mungkin ini adalah pengalaman pertama kalinya dia mengunjungi situs Trowulan. Kami datang memang kesorean, belum lagi suasana Mojokerto yang sedang mendung syahdu. tetapi ini tidak menyurutkan niat kami menikmati pesona Trowulan sore ini.
Situs yang pertama kami datangi adalah, Gapura Wringin Lawang. Saat itu, memang sedang sepi. Tidak ada pengunjung yang datang selain kami. Kesan pertama (atau kesan untuk kesekian kalinya ?), kenapa situs ini tidak ada penjual makanan atau souvenir khas dan unik lainnya. Padahal menurut saya lumayan lho, untuk peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. Tetapi yang kasihan lagi ya petugas penjaga situs ini yang lumayan sepuh atau berumur, kenapa tidak menggunakan potensi muda (yang mengerti tentang sejarah majapahit dan punya passion tentunya). Paling tidak ada regenerasi dan kepedulian dari kaum muda untuk menjaga-melestarikan peninggalan leluhurnya.
Setelah puas dengan Gapura Wringin Lawang, kami berpindah spot ke Candi Bajang Ratu. Dalam perjalanan kami juga melihat Telaga Segaran, cukup ramai, karena banyak warga sekitar yang memancing. Sampai di Candi Bajang Ratu hari semakin beranjak temaram, cukup singkat, kami hanya mengambil beberapa foto dan melihat sekitar (dan candi tentunya). Yang bikin heran, ketika saya melihat ada beberapa muda mudi yang nongkrong. What hell, ini kan candi bukan tempat duduk-duduk atau mojok pacaran. Salah satu contoh gambaran kaum muda yang lupa tempat dan lupa sejarah. ckck
Spot terakhir perjalanan kali ini adalah Candi Tikus (kalau tidak salah ada beberapa yang menyebutnya sebagai Candi Temon). Sebuah tempat pertirtaan/pemandian raja, ratu dan juga bangsawan Majapahit pada zamannya. Waktu beranjak maghrib ketika kami tiba disana. Sambil duduk-duduk, menikmati pesona candi dan juga langit yang menuju senja. Yep, I think this feeling like heaven of world. Perasaan damai, yang mungkin tidak saya dapatkan ketika plesir atau pergi ke tempat ramai dan modern seperti kebanyakan. Perjalanan yang murah, tetapi cukup berkesan, karena apa yang dinamakan kearifan lokal, alam dan juga kesahajaan telah memberi kami kepuasan batin. Hmm, mungkin besok tidak ada salahnya untuk kembali mencari tujuan wisata seperti ini lagi. Semoga ..
Label:
expresion,
indonesia,
potrait,
travel report
Trip to {paradise}
Wow, Subhanallah, mungkin kata-kata itu yang bisa saya ucapkan dalam hati ketika pertama kali membuka mata dan melihat pemandangan diluar sana. Suara deburan ombak, hawa dingin angin yang semilir dari laut, yep it's beach. Beberapa hari yang lalu saya dan teman-teman saya berkesempatan untuk liburan ke pantai. Bukan pantai yang jauh kok, lumayan dekatlah, di pesisir selatan Kabupaten Malang. Pantai Bajul Mati, begitu pantai ini dinamakan. Eksotis dengan hamparan pasir putih serta batuan karang yang menyekat antara daratan dengan Samudra Hindia.
Sayang beribu sayang, keindahan sunrise yang seharusnya bisa didapat pagi itu sirna sudah. Langit tampak muram, mendung pekat sisa semalam dan rintikan gerimis masih saja menemani. Tapi tak apalah, keindahan Pantai Bajul Mati di pagi ini masih bisa dinikmati. Dengan ditemani harum masakan pagi dan teman-teman yang menyenangkan.
Menjelang siang, perjalanan kita lanjutkan menuju spot berikutnya, kemana ? tentu saja masih disekitaran pantai pesisir selatan Malang ini. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari Pantai Bajul Mati, tetapi sayangnya akses dari jalan raya menuju ke pantai ini masih sulit. Mungkin masih kurangnya keseriusan pemerintah untuk mengarapnya. Terpaksa kami melanjutkan perjalanan dari jalan raya dengan berjalan kaki, sebenarnya warga sekitar sudah menyediakan angkutan menuju pantai yakni berupa ojek. Tarifnya pun relatif murah, hanya sepuluh ribu rupiah, tetapi karena kami ingin berjalan-jalan dan menikmati pemandangan akhirnya diputuskan untuk berjalan kaki (bukannya pelit lho). Sepanjang perjalanan menuju pantai (jaraknya sekitar dua kiloan), kami disuguhi dengan berbagai macam view yang menakjubkan. Perbukitan, aneka pepohonan, ladang, kebun pisang dan tentu saja keramahan para penduduk sekitar (bukti kalau konon masyarakat Indonesia yang murah senyum masih belum habis!).
Setelah beberapa menit berjalan akhirnya kami sampai di lokasi pantai, yeaay. Sangat excited, berhubung ini pertama kalinya saya mengunjugi pantai ini dan yang lebih kerennya lagi pantai ini super duper indah viewnya (walaupun lagi-lagi mendung pekat masih belum sirna). Tapi okelah, saya juga hanya ingin menikmati liburan di Pantai Goa Cina ini. Kesan pertama selain keindahan viewnya adalah nama pantai ini sendiri, why must name Goa Cina ? bukannya ini Indonesia. Ternyata oh ternyata setelah ditelisik, dahulu pada tahun 1930 konon ada seorang pertapa berkebangsaan Cina yang bersemedi di goa karang di pantai ini. Dan lebih bikin merinding lagi adalah si pertapa tadi musnah atau bahasa jawanya moksa (nah lho).
Diluar kisah mistis tentang riwayat pantai ini, Goa Cina menyuguhkan keindahan lukisan Allah yang nyata. Hamparan pasir putihnya, ombaknya yang bergulung-gulung dan juga hamparan pulau karang yang tersebar di dekat pantainya, it's perfect. Belum lagi pantai ini juga menyediakan area untuk berkemah, wow. Selain itu masyarakat lokalnya yang ramah dan juga masakan khas yang harganya cukup murah (untuk ukuran mahasiswa tentunya). Yeaah, maka tidak berlebihan kalau wisata saya ini saya namakan road to paradise. Pantai pesisir selatan Malang yang indah, yang tidak kalah dengan pantai sejenis yang masih banyak di seantero Indonesia tercinta ini. Last word, kekayaan yang diberikan Allah untuk negeri ini sangatlah banyak dan cukup sayang menurut saya apabila negara ini hilang bangganya terhadap kearifan lokal dan tradisinya. Sudah cukup kekacauan di negara ini, saatnya menyatukan pikiran dan tenaga untuk membangun, dengan tangan kita sendiri. MERDESA !
Label:
indonesia,
landscape,
picture,
travel report
Malang Holy-time (part 1) : FABULEUX BATU SECRET ZOO
Yeay, finally I can get back vacation. although for the holidays not far away, I was going to Malang. Have not counted how many times I visit this city, especially visiting the sights. But this special time, because I was with my friends working in ALMAHA. And this little story about the trip yesterday.
As usual Batu town offering coolness and natural beauty with a backdrop of mountains and hills. Not to mention the atmosphere harmony of rural and agricultural, that made me enchanted. Our vacation destination this time is to visit Batu Secret Zoo. Honestly, this is the first time I went here. So I was very enthusiastic and enjoy. Batu Secret Zoo offers a concept of modern zoo that combined with a variety of rides and wildlife museum inside as well. Exciting, because I get to see and learn about the animals of course. And surrounds this place also takes a long time, because the place is huge!!
Trip around Batu Secret Zoo is completed at four o'clock. Tired, Happy and satisfied that I have feel. And before ending concludes with pictures with ALMAHA friends in front of the Museum Satwa. But I have not finished holiday, because the next day I was there the other exciting trips in this cold city.
As usual Batu town offering coolness and natural beauty with a backdrop of mountains and hills. Not to mention the atmosphere harmony of rural and agricultural, that made me enchanted. Our vacation destination this time is to visit Batu Secret Zoo. Honestly, this is the first time I went here. So I was very enthusiastic and enjoy. Batu Secret Zoo offers a concept of modern zoo that combined with a variety of rides and wildlife museum inside as well. Exciting, because I get to see and learn about the animals of course. And surrounds this place also takes a long time, because the place is huge!!
Trip around Batu Secret Zoo is completed at four o'clock. Tired, Happy and satisfied that I have feel. And before ending concludes with pictures with ALMAHA friends in front of the Museum Satwa. But I have not finished holiday, because the next day I was there the other exciting trips in this cold city.
Label:
indonesia,
personal,
potrait,
travel report
Selokuro Rainy Trip
Yeaay, akhirnya liburan juga hari minggu kemarin. Walaupun tidak ke tempat wisata yang jauh atau mall-mall di Surabaya yang dingin dan memanjakkan nafsu belanja. Tujuan saya dan teman-teman adalah Lamongan, tepatnya kecamatan Selokuro. Ada beberapa alasan kami pergi ke desa yang masih asri ini, pertama adalah untuk urusan bisnis, kedua liburan tentunya dan terakhir adalah mengantar teman saya Agung mudik. hehehe
Perjalan siang kemarin agak sendu mendayu-dayu, mendung dan gerimis mengundang menemani kami. Benar saja, sampai di daerah Sembayat (Gresik), kami bertiga sudah basah kuyup terkena air hujan dan cipratan air dari kendaraan lain. Menjegkelkan tentunya, tapi nikmati sajalah perjalanannya. Kami tiba di kecamatan Selokuro tepat pukul 2 siang, pemandangan khas desa dan rutinitas pribumi sekitar menyambut kami bertiga. What heaven like that, huh ?
Setelah rehat sebentar di rumah Agung, kami akhirnya menuju ladang tempat rencana kami bertiga akan berternak lele. Selain itu kami juga akan megembangkan budidaya Rosella. Cukup menjanjika saya pikir, mengingat dua komoditi ini (lele dan rosella) cukup digemari masyarakat luas. Ini peluang untuk kami bertiga, kesempatan yang akan maksimalkan agar mendapatkan suatu yang besar nantinya. Hahaha
Ladang di desa sini masih sangat subur. Banyak hamparan tanah merah, yang konon adalah tanah yang baik untuk bercocok tanam karena tingkat kesuburan yang tinggi. Didukung dengan ketersediaan air yang sangat melimpah. Benar-benar Indonesia-ku yang subur dan kaya.
Jujur sangat menyenangkan dapat bermain hujan-hujanan dan jalan di ladang hijau yang asri. Banyak yang saya temui disini, daun hijau yang basah, bau tanag yang alami, buah-buahan dan juga binatang khas pedesaan. Sebelum saya kembali ke rumah untuk segera pulang ke Gresik, saya sempatkan untuk menggambil beberapa daun singkong muda. Hitung-hitung sebagai oleh-oleh untuk Ibu tercinta di rumah.
Gerimis, ladang hijau, orang-orang desa yang ramah dengan alamnya yang segar. That's perfect Sunday for me, thanks God !
instagram's corner : Bali holy-time
" Solid as a rock, a statue of the grim guards "
" Temple, monkey was sleeping. I thought this was a unique sight. haha "
" Time to enjoy paradise, waves, white sand and my feet were bare of course "

" This is heaven, red sky, sunset and waves "

" Evening the atmosphere was getting hotter with burned with Kecak dance "
Label:
indonesia,
potrait,
story,
travel report
Subscribe to:
Posts (Atom)






























