Showing posts with label social. Show all posts
Showing posts with label social. Show all posts

Aisyah, Gadis Kecil Tangguh Berhati Mulia


   Cukup tertarik pada saluh satu berita di televisi yang saya tonton barusan. Bukan berita tentang politik, ekonomi atau bahkan gosip. Hanya berita yang menggambarkan sosok gadis kecil berusia delapan tahun yang merawat ayahnya yang sakit bebrapa tahun belakangan ini. Sungguh menggugah hati, pasalnya Siti Aisyah hanyalah gadis kecil, tetapi setiap harinya berusaha merawat, menjaga dan  menghidupi ayahnya dan juga dirinya diatas becak. Memang ada yang membantu, dengan memberi uang dan makanan, tetapi mereka bukan mengemis.
   Apa yang bisa saya atau kita pelajari dari kisah Aisyah ini adalah jangan mudah menyerah, jangan mengeluh, terus berusaha, terus bertahan atas apa yang menjadi cobaan hidupmu. Karena hidup adalah perjuangan, dan percayalah suatu saat nanti akan indah pada saatnya. Untuk Aisyah, kamu hebat dik !

Save our Papua


The case in Papua certainly worrying everyone, especially the security forces in this country, after the conflict in Aceh after the Helsinki MoU, the turmoil has pushed in Papua, we regret very much what our country has always just be "the game" parties who have interests?, Why armed violence also needs to happen? is there any solution to the problem of Papua for the tranquility and peace of this country?
This is a big challenge for the Government of Indonesia. Because, if the Government does not solve this problem elegantly by considering the Papua society, as well as the triggering factor common solutions to common interests, Papua will experience a "tsunami" of politics that could have led to the disintegration (separation), as well as East Timor.
Proverb that often our daily "where there is sugar there is the ants' right would describe the current condition of Papua. Papua is like sugar which abundant natural resources (SDA) was, ants are local entrepreneurs, national and international fight over the sweetness of Papua. Even the horrendous news that allegedly there are 70 American soldiers who guarded the Freeport gold mine. It was not only the level mengindasikan businessman who played in Freeport but had reached the state level, particularly the United States.
In addition to rich natural resources, Papua is also "rich" will be conflict, strategic issues at the root of the problem in Papua. First, the marginalization and discrimination against indigenous Papuans. Secondly, there is a failure in the field of economic development, education and health. Third, there are different perceptions about the history of Papua or Irian especially about the Act of Free Choice 1969 and the UN-sponsored U.S. according to most of the people of Papua is not valid. Fourth, there is a prolonged trauma since 1966 to power during the New Order as a result of military operations.
Papua problem is a problem that could have occurred in other areas across the country and even the Muslims. Particularly in Indonesia East Timor case it is enough to be a big lesson for the nation, do not let it happen again. Actually the problem of disintegration, a referendum can not be completed until independence in the application of the capitalist system. These problems can only be resolved by applying Islamic kaffah. For example in terms of economic and natural resource management, Islam stipulates that the abundant deposits of natural wealth, such as copper and gold mine in Papua designated as common property. The results gathered in the processing in the state treasury and distributed to finance the construction and service to all citizens without exception. 
Citizens in the eyes of Islam must be treated fairly, there should be no discrimination on the basis of ethnicity, race, color, race, races, religions and groups in terms of government services to them. Rules like these that will save from the Papuan conflict and the desire for independence.

photo sources : Hendrik F Wieland photo album (with adobe CS4 re-touched)

INDONESIAN today : (still) consumptive is better than production


Sorry if the (possibly) my article is a bit provocative, but here's the situation in this country. Who prefer to bring in foreign products rather than (try) to produce, cultural spending the famous and branded items rather than spending for local products (most are not) are almost the same quality. Perhaps pride and a separate luxury when using these foreign products. And this is tantamount to killing the local craftsmen and entrepreneurs who have taken pains to develop and introduce their product (which is actually native Indonesia). Indeed, sometimes the product in our country there are still some shortcomings in the results or the quality of their products, but at least we appreciate the work they (the entrepreneurs and local craftsmen) by buying the original product Indonesia. 
As it is now being discussed, where the vocational high school students who managed to create innovation in the manufacture of cars. It was amazing as well as pride, that in fact they are still in school and learning can make a car. Far defeated the leaders of this country who can only sit back and insensitive in dealing all the problems of his people. It's quite a criticism against them, that the children of the nation can create a work that is not inferior to foreign-made. So what we still need to rely on the supply of foreign products in the country while still able to produce it yourself? Perhaps it is time we (the children of the nation) who cultivate the fertile lands of our own water, nationalized and we could be free from colonial capitalist economy are like this now. Because I believe we are all the people of Indonesia can!

Kemiskinan Yang Dipertanyakan (?)


Kadang muncul dilema saat saya harus menghadapi para pengemis dan pengamen di jalanan atau di keramaian. Bingung, apakah harus memberi atau tidak. Kebanyakan yang saya beri adalah para pengemis, alasannya jelas karena secara sosial mereka lebih membutuhkan. Tapi fakta lapangan banyak di jumpai para pengemis itu rata-rata adalah pemuda-pemudi. Mereka (yang notabene) ada dalam usia produktif, yang seharusnya bisa bekerja dan lebih berusaha untuk memenuhi kebutuhannya (dan bukan dengan jalan meminta-minta). Selain itu sering juga saya temui sebagian dari mereka (para pengemis), yang ternyata dalam kondisi berkecukupan (saat itu mereka saya lihat memiliki handphone, perhiasan emas dan juga mobil !). Jadi sebenarnya orang-orang miskin yang menjadi pengemis itu yang mana ? Apakah mereka yang benar-benar miskin secara ekonomi dan status sosial ? Atau mereka yang sebenarnya berkecukupan (tapi karena malasnya untuk bekerja) akhirnya menjadi pengemis ? Lucu yaa melihat fenomena seperti ini, seharusnya mereka (yang kehidupannya lebih baik) bisa mencari rezeki dengan jalan semestinya. Yang benar-benar miskin aja walaupun susah tapi tetap mau bekerja keras agar bisa makan. Seharusnya mereka-mereka (para sindikat) pengemis punya rasa malu untuk meminta-minta, karena bagaimanapun tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah.
Okeeey, sekarang ke obyek yang kedua, para pengamen ! Kalau boleh jujur kesan saya terhadap mereka adalah : para jobless yang menjual suara mereka untuk mendapat uang, tampil preman atau urakan (kebanyakan !). Dan mereka adalah orang-orang yang (sangat) jarang saya beri uang saya sedang mengadakan konser keliling. Tapi banyak yang bilang, mereka (para pengamen) masih lebih baik daripada pengemis. Alasannya : ya karena mereka masih mau berusaha (dengan menjual suara dan berjalan jauh) untuk mendapatkan penghasilan. Selain itu mereka (kebanyakan) dalah para orang-orang kreatif dan total saat membawakan lagu, tahan malu dan juga tahan banting (saat orang yang di amenin tidak memberikan uang).
Mereka (para pengemis dan pengamen) adalah beberapa contoh dari orang-orang pinggiran di negara ini. Mereka berjuang, mereka bersusah payah dan bermandi keringat hanya untuk sesuap nasi, untuk menghidupi keluarga di rumah. Jadi, mestinya kita mesti bisa selektif untuk memberikan uang/sedekah kepada mereka. Lihat dengan mata hati, mana dari mereka yang benar-benar sangat membutuhkan. Agar apa yang mestinya menjadi HAK mereka dapat tersalurkan. Last, never stop to give and share to others, whatever it's our condition.

Do you know pudak ?


Entah kenapa kog lagi pengen bikin tulisan tentang Gresik. Ternyata banyak yang bisa di explore dari kota industri ini (yang sekarang menjadi hometown saya), salah satu fakta unik adalah masyarakat Gresik yang suka dengan makan dan njajan. Maka tidak heran kalau di sini (kota Gresik) banyak di jumpai penjual-penjual makanan (dari makanan yang modern sampai makanan tradisional). Tapi yang ingin saya explore adalah jajanan khas asli Gresik. Eum, salah satu contohnya mungkin pudak (berhubung tadi habis mengantar Mama saya membeli Pudak. Hehehe).
Pudak, mungkin orang-orang Gresik mengenalnya dengan jajanan yang terbuat dari bahan tepung beras, gula pasir atau gula jawa dan santan kelapa. Yang unik dalam kemasannya, adonan pudak ini dimasukkan ke dalam pelepah daun pinan g yang telah kering, di samak dan kemudian di jahit. Oh iyaa, daun pelepah pinang ini di sebut Ope oleh orang Gresik. Dan untuk pudak ini sendiri ada beberapa rasa yang di tawarkan (setahu saya cuma ada 4 macam varian), di antaranya pudak putih (gula pasir), pudak merah/cokelat (gula jawa), pudak sagu (dari bahan sagu) dan pudak hijau (atau pudak pandan, karena campuran daun pandan). Sebenarnya kalau mau di kembangkan, jajanan pudak ini bisa lebih terkenal di luar kota Gresik dan sekitarnya. Caranya para pembuat pudak bisa menambah varian rasa dengan mengkombinasikan dengan bahan-bahan lain yang alami. Siapa tahu ke depannya di kenal juga ada pudak rasa apel, rasa melon atau rasa lain. Tetapi ada kendala juga sebenarnya, denger-denger nih untuk pembuatan pudak ini cukup susah dan butuh proses lama. Belum juga untuk ope atau kemasannya yang semakin jarang juga bahannya.
But at last, Semoga para pembuat pudak ini semakin kreatif dalam pembuatannya. Dan perlu dukungan juga dari warga Gresik untuk memperkenalkan jajanan khas ini ke seluruh Indonesia (seluruh dunia juga kalu bisa). Dan untuk membeli jajanan unik dan enak rasanya ini, bisa ditemui di jalan Sindujoyo, Gresik. Di sana sentra oleh-oleh khas Gresik, dan banyak juga jajanan khas yang lain.

Romantisme Kehidupan Pemulung



Why mesti Pemulung ?? padahal mereka lebih berkesan kumuh, miskin, kotor dan orang-orang malas yang tidak berpendidikan. Nothing special. Mereka yang kerjanya hanya mengais sisa-sisa sampah, mereka yang menggelandang (tidak punya rumah), mereka yang kebanyakan hidup di garis kemiskinan Negara ini. Subyektifitas para pemulung-pemulung hanyalah kata-kata dan statement negative itu tadi. Apa hanya itu saja yang mendeskripsikan seorang pemulung ?? Tentu saja tidak ..

Menurut saya, mereka itu sekumpulan orang-orang aktif, ulet dan kreatif. Dengan kekurangan yang mereka miliki (kemiskinan, pendidikan yang kurang, tidak adanya lahan pekerjaan yang layak dan pantas), mereka selalu mencoba tetap survive menjalani kehidupan ini. Terpaan terik matahari yang menyengat, bau sampah dan kotoran dari berbagai macam tanpa ada rasa jijik dan malu-malu, mebalik-balik sampah guna mengumpulkan barang bekas baik kertas, kardus, besi, plastik dan lain yang bisa dijual kembali kepada para pengepul. Mereka adalah pahlawan kebersihan lingkungan tanpa tanda jasa, selain Bapak/Ibu pasukan kuning (dan tentunya instansi Dinas Kebersihan dan Tata Kota).
Tetapi mengapa kadang keberadaan mereka cenderung termarjinalkan ? Jadi buruan SATPOL PP dan kadang menjadi musuh warga karena asumsi bahwa kadang mereka  juga mencuri (?) Mereka hanyalah orang-orang yang miskin (dalam artian kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya), Orang-orang yang tertindas karena kebijakan-kebijakan Negara ini.

Jadi mulai sekarang ubah sudut pandang anda terhadap meraka. Tidak semua pemulung memiliki citra buruk dan kumuh, menjadi pemulung juga membutuhkan proses (dan tentu saja itu pilihan hidup). Malah kalau lebih kita dalami kehidupan mereka, banyak pelajaran dan ilmu positif. Bagaimana kegigihan dan keuletan mereka sehingga menjadi orang-orang sukses (untuk ini sudah banyak contohnya di negeri ini). Dan tidak semestinya kemiskinan itu dilanggengkan melalui struktur-struktur social yang terus mengungkung golongan miskin sehingga mereka tiada lain hanyalah robot-robot yang senantiasa terkendali. Karena kita semua sama-sama mahluk ciptaan Tuhan, sama-sama satu Negara Indonesia dan mulai sekarang hilangkan perbedaan. Budaya peduli terhadap sesama dan saling menghargai untuk INDONESIA SATU !

INDONESIA yang lebih baik



Jaman sekarang yang namanya “punya hati” itu sudah hilang. Kebanyakan orang-orang sudah sudah tidak punya hati. Jadi mereka bisa berbuat seenak udelnya, tanpa memperdulikan bagaimana dengan orang lain. Mereka lupa akan kepekaan dan rasa memberi , yang ada bagaimana caranya bisa berada diatas dan dalam posisi enak. Menghalalkan segala cara agar keinginannya tercapai, walau itu harus saling sikut. Dan untuk orang-orang yang dibawah, mereka akan semakin terpuruk, tertindas dan termarjinalkan oleh kondisi. “seleksi alam” namanya.
Tapi apakah kita akan nyaman dengan kondisi ini ? Tentu saja tidak, sekarang saatnya kita mulai lebih membuka lebar mata kita, menajamkan pendengaran dan mantapkan hati. Kita coba kondisikan “kepekaan” itu di berbagai aspek, kita ciptakan inovasi-inovasi untuk kemajuan, berpikir bagaimana agar kita lebih berguna dalam masyarakat.
Act now ! kita butuh aksi nyata ! Banyak yang bisa kita berbuat, entah itu dimulai dengan membuat sekolah dan perpustakaan keliling untuk anak-anak jalanan dan gelandangan yang tidak sekolah. Kegiatan-kegiatan BAKSOS yang rutin untuk masyarakat miskin di desa. Mungkin juga kita bisa menggandeng donator dari oaring-orang yang kaya, kita coba buka mata hati mereka. Selain itu bagi kita yang berjiwa entrepreneur, mungkin kita bisa ciptakan UKM yang tenaga kerjanya bisa menyerap dari pemuda-pemuda pengangguran yang ada. Sebisa mungkin kita kondisikan iklim gotong royong, saling memberi dan kita butuh banyak ide-ide inovasi yang cemerlang untuk INDONESIA yang lebih baik. Ayo kita pasti bisa !